Order Now
Asal-Usul Suku Rejang dan Hubungannya dengan Migrasi Austronesia di Sumatra
Home >> Uncategorized  >>  Asal-Usul Suku Rejang dan Hubungannya dengan Migrasi Austronesia di Sumatra

Asal-Usul Suku Rejang dan Hubungannya dengan Migrasi Austronesia di Sumatra

Pendahuluan

Suku Rejang merupakan salah satu kelompok etnis tertua yang mendiami wilayah Provinsi Bengkulu, khususnya di daerah pegunungan Bukit Barisan seperti Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Kepahiang, dan Bengkulu Tengah. Dalam berbagai kajian sejarah, antropologi, dan linguistik, masyarakat Rejang sering disebut sebagai salah satu komunitas asli tertua di Sumatra bagian selatan yang masih mempertahankan identitas budaya, bahasa, adat istiadat, serta aksara tradisionalnya hingga saat ini. (Wikipedia)

Keunikan Suku Rejang tidak hanya terletak pada sistem adat dan budayanya, tetapi juga pada bahasa Rejang yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan bahasa Melayu di sekitarnya. Oleh karena itu, asal-usul masyarakat Rejang menjadi salah satu topik yang menarik dalam kajian sejarah dan antropologi Indonesia.

Teori Asal-Usul Suku Rejang

A. Teori Proto Melayu (Melayu Tua)

Teori yang paling banyak diterima oleh para ahli menyatakan bahwa Suku Rejang merupakan bagian dari kelompok Proto Melayu (Melayu Tua) yang bermigrasi ke Pulau Sumatra ribuan tahun lalu. Kelompok Proto Melayu diperkirakan datang ke Nusantara sekitar 2.500–1.500 SM melalui jalur Asia Tenggara daratan. (Literasi Kita Indonesia)

Menurut Sumarto (2021), masyarakat Rejang dikategorikan sebagai kelompok Melayu Proto yang telah lama menetap di wilayah pegunungan Bengkulu sebelum kedatangan gelombang Melayu Muda (Deutero Melayu). Oleh karena itu, banyak unsur budaya dan bahasa Rejang yang berkembang secara khas dan berbeda dari kelompok Melayu pesisir. (Literasi Kita Indonesia)

Karakteristik kelompok Proto Melayu yang ditemukan pada masyarakat Rejang antara lain:

a. Menempati wilayah pegunungan dan pedalaman.

b. Memiliki sistem adat yang kuat.

c. Mengembangkan bahasa sendiri yang berbeda dari bahasa Melayu umum.

d. Memiliki sistem tulisan tradisional lokal.

B. Teori Migrasi Austronesia

Kajian linguistik modern menunjukkan bahwa Bahasa Rejang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia dan subkelompok Melayu-Polinesia. Bahasa tersebut berasal dari bahasa purba yang berkembang dari migrasi besar masyarakat Austronesia dari Asia Timur menuju Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara. (Scribd)

Bellwood, Fox, dan Tryon menjelaskan bahwa persebaran bangsa Austronesia dimulai dari wilayah Taiwan dan Tiongkok Selatan, kemudian menyebar ke Filipina, Kalimantan, Sumatra, Jawa, hingga kawasan Pasifik. Dalam konteks ini, masyarakat Rejang dipandang sebagai bagian dari komunitas Austronesia yang berkembang secara lokal di wilayah Bukit Barisan. (Scribd)

Teori ini juga menjelaskan mengapa sebagian leluhur masyarakat Rejang memiliki akar genetik yang jauh dengan populasi Asia Timur dan Asia Tenggara daratan.

C. Teori India Belakang

Beberapa penelitian lama menyebutkan bahwa nenek moyang masyarakat Rejang kemungkinan berasal dari kawasan yang dahulu dikenal sebagai India Belakang (Indochina), yaitu wilayah yang kini mencakup Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, dan Myanmar. (Literasi Kita Indonesia)

Hazairin (1936), Marsden (1783), dan beberapa peneliti lain menemukan indikasi adanya migrasi masyarakat dari Asia Tenggara daratan menuju Sumatra bagian selatan. Namun, teori ini belum dapat menjelaskan secara rinci proses migrasi maupun hubungan biologis langsung dengan masyarakat Rejang modern. (Literasi Kita Indonesia)

Hubungan dengan Garis Keturunan Asia Timur (Mongoloid)

Dalam antropologi modern, istilah "Mongoloid" sudah jarang digunakan karena dianggap terlalu umum dan tidak mampu menjelaskan kompleksitas migrasi manusia. Namun secara historis, masyarakat Austronesia memang memiliki akar leluhur yang berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara daratan. (Scribd)

Oleh karena itu, masyarakat Rejang kemungkinan memiliki hubungan leluhur yang sangat jauh dengan populasi Asia Timur yang menjadi bagian dari migrasi Austronesia. Akan tetapi, tidak terdapat bukti sejarah yang menunjukkan bahwa masyarakat Rejang merupakan keturunan langsung bangsa Mongol dari Mongolia seperti yang dipimpin oleh Genghis Khan pada abad ke-13.

Dengan kata lain, hubungan tersebut lebih bersifat prasejarah dan terjadi ribuan tahun sebelum munculnya Kekaisaran Mongol.

Bahasa Rejang sebagai Bukti Historis

Bahasa Rejang merupakan salah satu bukti penting yang digunakan para ahli untuk menelusuri asal-usul masyarakat Rejang. Menurut Richard McGinn, Bahasa Rejang memiliki karakteristik linguistik yang unik dan tidak sepenuhnya dekat dengan bahasa Melayu lain di Sumatra. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan adanya kedekatan linguistik dengan kelompok bahasa Bidayuh di Kalimantan Utara. (Wikipedia)

Keunikan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Rejang kemungkinan merupakan kelompok lama yang berkembang relatif terisolasi di wilayah pegunungan Bukit Barisan sehingga mempertahankan banyak unsur bahasa purba yang tidak ditemukan pada kelompok Melayu lainnya. (Wikipedia)

Aksara Ka Ga Nga sebagai Warisan Peradaban Rejang

Salah satu identitas terpenting masyarakat Rejang adalah keberadaan Aksara Ka Ga Nga atau Aksara Rejang.

Image
Image
Image
Image
Image
Image

Aksara ini termasuk dalam kelompok Surat Ulu dan berkembang di Sumatra bagian selatan. Para ahli memperkirakan aksara tersebut memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dan Kawi yang berkembang di Nusantara sejak masa Hindu-Buddha. (ojs.stkippgri-lubuklinggau.ac.id)

Menurut Hudaidah dan Rizki (2022), Aksara Ka Ga Nga berkembang pesat sekitar abad ke-16 hingga ke-17 Masehi dan digunakan dalam penulisan:

a. Naskah adat.

b. Mantra dan pengobatan tradisional.

c. Catatan pertanian.

d. Sastra lisan dan puisi.

e. Dokumentasi sejarah masyarakat Rejang. (ResearchGate)

Keberadaan aksara ini menunjukkan bahwa masyarakat Rejang telah memiliki tradisi literasi lokal yang berkembang sebelum penggunaan huruf Latin secara luas.

Kesimpulan

Berdasarkan kajian sejarah, antropologi, dan linguistik, Suku Rejang umumnya dianggap sebagai keturunan kelompok Proto Melayu yang merupakan bagian dari migrasi besar Austronesia ke Nusantara. Masyarakat Rejang telah lama menetap di wilayah pegunungan Bengkulu dan mengembangkan budaya, bahasa, serta sistem adat yang khas. Walaupun terdapat kemungkinan hubungan leluhur yang sangat jauh dengan populasi Asia Timur melalui jalur migrasi Austronesia, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa masyarakat Rejang merupakan keturunan langsung bangsa Mongol dari Mongolia. Keunikan Bahasa Rejang dan keberadaan Aksara Ka Ga Nga semakin memperkuat posisi masyarakat Rejang sebagai salah satu komunitas etnis tertua dan paling berpengaruh dalam sejarah Sumatra bagian selatan.

Daftar Referensi

Marsden, W. (1783). The History of Sumatra. London: Thomas Payne. (Wikipedia)

McGinn, R. (2009). Austronesian historical linguistics and culture history. Pacific Linguistics. (Wikipedia)

Hudaidah, & Rizki, T. (2022). Upaya pelestarian Ka Ga Nga aksara lokal Suku Rejang di Kabupaten Rejang Lebong. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, 11(2), 155–165. (ResearchGate)

Sumarto. (2021). Tanah Rejang dalam perspektif sejarah dan budaya masyarakat Rejang. Jurnal Literasiologi, 5(1). (Literasi Kita Indonesia)

Suwandi. (2012). Aksara Rencong (Huruf Ka Ga Nga): Sejarah dan perkembangannya di Sumatera Selatan. Jurnal Perspektif Pendidikan. (ojs.stkippgri-lubuklinggau.ac.id)

Bellwood, P., Fox, J., & Tryon, D. (1995). The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives. Canberra: Australian National University Press. (Scribd)

Hazairin. (1936). De Rejang. Leiden. (Literasi Kita Indonesia)

Suku Rejang
Aksara Ka Ga Nga
Lebong
Rejang Lebong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *